Selasa, 12 Desember 2017

“ ALLAH IS THE BEST PARTNER OF BUSINESS “

Dalam mencapai sebuah tujuan hidup, seseorang pasti akan merencanakan dan melakukan tindakan untuk meraih apa yang diinginkannya. Disisi lain sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa terlepas dari campur tangan orang lain. Perlunya interaksi dalam urusan dunia menuntut manusia agar menjalin kerjasama dengan orang lain. Namun, perlu diketahui bahwa tidak selamanya seseorang bisa berpangku tangan kepada orang lain. Akan ada suatu masa dimana manusia merasakan ketidakpuasan akibat proses tersebut. Itulah hakikatnya berbisnis manusia dengan manusia, karena manusia fitrahnya tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan.
Lain halnya ketika kita telah berikhtiar terhadap apa yang kita inginkan, kemudian kita diuji dengan kegagalan-kegagalan lalu berusaha untuk bangkit berdiri kembali. Disitulah kita membutuhkan partner yang selalu ada, memberi solusi terbaik, dan menjadikan setiap dari kegagalan adalah wujud pembelajaran untuk kedepannya. Bukankah kita memiliki Dzat Yang Maha Mengasihi lagi Pemberi Pertolongan. Lalu masih kah kita bergeming ?
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan” (Qs. Al Fatihah : 5)
Kembali pada konteks permasalahan di atas, dalam dunia bisnis seorang pengusaha akan mengalami 3 kemungkinan yakni untung, rugi, dan BEP (Break Even Point) atau impas. Ketiganya tersebut hanya terjadi pada bisnis man to man. Namun, jika kita berbisnis dengan Allah SWT yang ada kita akan memperoleh keuntungan. Akan tetapi yang dimaksud “bisnis” disini adalah ketika kita melibatkan segala aktivitas dalam kehidupan ini semata-mata karena ibadah kepada Allah serta mengharap ridho-Nya. Perlu diketahui bahwa tidak mudah untuk melakukan tersebut, butuh keyakinan serta kemantapan hati secara totalitas bahwa hanya kepada-Nya kita bergantung dan berserah diri atas apa yang sudah kita ikhtiarkan.
وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿١٢٣﴾

“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkal lah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan” (QS. Huud: 123).

Kehidupan nyata yang sering kita jumpai adalah ketika kita tidak percaya atas kemampuan diri sendiri dan takdir Allah. Misalkan ketika kita berhadapan dengan suatu masalah, maka yang ada dalam pikiran kita adalah bagaimana cara memecahkan masalah tersebut, terkadang memang kita terjebak dalam suatu keadaan. Kita fokus untuk mencari solusi namun lupa untuk meminta pertolongan Allah dan meragukan atas apa yang akan terjadi. Contoh kecilnya ketika seorang mahasiswa menghadapi ujian akhir semester. Ia belajar dengan sungguh-sungguh dan mempersiapkan ujian dengan baik. Namun pada saat ujian berlangsung, yang keluar justru hanya beberapa persen dari materi yang sudah ia pelajari, selebihnya merupakan bentuk analisa dan penalaran. Karena mahasiswa tersebut takut tidak bisa mengerjakan, maka ia pun lebih memilih jalan mencontek hasil kerja temannya meskipun dengan resiko yang akan ia tanggung. Hal tersebut menunjukkan kurangnya kepercayaan diri manusia terhadap kemampuan yang ia miliki serta kurangnya kesadaran bahwasanya ada Dzat yang selalu mengawasinya dan Ia pun siap memberi petunjuk dan pertolongan ketika dibutuhkan oleh hambaNya.

Hal semacam di atas menjadi bahan introspeksi diri kita sejauh mana progres bisnis kita dengan Tuhan. Jika terlambat, bagaimana untuk memulainya ?

Dalam menjalin bisnis yang baik hendaknya mengenali siapa partner kerja kita. Maka dari itu, manusia perlu menyadari siapa Tuhannya dan belajar mensyukuri atas semua nikmat dan cobaan yang telah diberikan olehNya. Perlunya kita menanamkan sifat ini pada pribadi diri kita masing-masing. Supaya kita semakin yakin bahwa tiada siapapun yang mampu menghidupi hambaNya kecuali Dia. Dan sungguh, jika manusia menghitung kenikmatan Tuhannya, maka niscaya tak akan mampu menghitungnya.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾
“Katakanlah, Dialah (Allah) Yang Maha Esa “
“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”
Teori QS. Al Ikhlas sejalan dengan teori matematika. Dalam ilmu matematika 1/0 = ~ (tak hingga). Kita asumsikan bahwa :
1 = Tuhan
0 = manusia

Dapat disimpulkan bahwa “ Tuhan itu Satu, kita tidak ada apa-apanya..jika kita hanya bergantung dan berharap kepadaNya maka segalanya akan mengikuti kita “.
Inti dari konsep bisnis dengan Rabb adalah ketika kita bisa memanfaatkan waktu di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Karena pada akhirnya setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang telah dilakukannya. Dalam sebuah sabda nabi dikatakan bahwasanya “manusia yang cerdas adalah manusia yang paling banyak mengingat kematian dan mempersiapkan kehidupan setelah kematiannya” (HR. Ibnu Majah).